Beberapa Pengurus dan Konsultan Etnomusikologi USU diDasawarsa 1980-an sampai 1990-an


                         KONTINUITAS DAN PERUBAHAN PROGRAM STUDI 
                                                ETNOMUSIKOLOGI USU

sejarah etno

 Sejarah

 Periode Awal
Berdasarkan sejarahnya, Program Studi Etnomusikologi,  Fakultas Sastra (FS), Universitas Sumatera Utara (USU) Medan,  didirikan pada tahun 1979. Yang kuat mendukung berdirinya institusi dalam universitas ini adalah rektor USU   saat itu yaitu Prof. Adi Putera Parlindungan Lubis dan Dekan Fakultas Sastra yaitu Prof. Tengku Amin Ridwan, Ph.D. Keduanya memiliki pengalaman pendidikan yang dekat dengan lingkungan seni budaya. A.P. Parlindungan mencintai seni budaya khususnya berasal dari kawasan budaya Mandailing yang kemudian studi doktor hukum agraria di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Prof. Amin Ridwan sendiri berlatar belakang pendidikan doktoral linguistik dari Monash University Australia. Di Monash University ini terdapat pula institusi etnomusikologi, dengan salah seorang tokohnya yang cukup menonjol yaitu Prof. Dr. Margareth J. Kartomi. Tokoh ini banyak melakukan penelitian kebudayaan musik etnik di seluruh Nusantara, seperti musik Sumatera, Jawa, Sasak, Bali, Kalimantan, dan lain-lainnya. Beliau juga banyak menulis buku tentang etnomusikologi yang dihasilkannya dengan berbasis penelitian lapangan.

Dalam periode awal berdirinya Etnomusikolog  FS USU ini, dibentuk pula Lembaga Kesenian USU (LK USU) yang memperkenalkan kesenian Sumatera Utara dan Indonesia ke manca negara, seperti Australia, Inggris, Belanda, dan Amerika Serikat. Lembaga Kesenian USU ini cukup aktif membina dan mengharumkan nama universitas. Pada periode awal ini beberapa dosen didatangkan oleh USU bekerjsama dengan Monash University dan The Ford Foundation dari dalam negeri dan luar negeri. Selepas itu terjadilah periode internasionalisasi.

Periode Internasionalisasi

Periode internasionalisasi Departemen Etnomusikologi FS USU, terjadi seiring dengan banyaknya perhatian dan kerjasama USU dengan dunia akademik internasional untuk mengembangkan program studi ini, dengan tekad menjadi yang terdepan di rantau Nusantara. Di antara proses internasionalisasi yang terjadi adalah   The Ford Foundation (Amerika Serikat) memberikan bantuan dana untuk pengembangannya. Beberapa mahasiswa disekolahkan ke Amerika Serikat.

Di antara konsultan-konsultan dari luar negeri dan dalam negeri yang tercatat dalam sejarah berdiri dan berkembangnya Departemen Etnomusikologi FS USU adalah sebagai berikut. (1) Philip Yampolsky, seorang ilmuwan etnomuskologi Amerika Serikat yang juga sebagai kurator dan peneliti ternama musik etnik di seluruh Indonesia di bawah institusi Smithsonian. (2) Edward C. Van Ness, warga negara Amerika Seriakt yang juga seorang etnomusikolog (musikolog) ternama yang sangat piawai dalam ilmu harmoni dan pemain biola, sebahagian besar waktu hidupnya dihabiskan di Indonesia, karena ia bekerja, kawin dengan orang Indonesia, dan sangat memahami budaya Indonesia. (3) Marc Perlman juga adalah seorang ilmuwan dan warga Amerika Serikat, yang memiliki berbagai keunggulan keilmuannya. Di antaranya adalah ia seorang penulis budaya yang kritis, lama tinggal di Jawa. Ia banyak membawa teori-teori etnomusikologi dan budaya ke Departemen Etnomusikologi FS USU. Selepas pulang ke Amerika Serikat ia terus saja menulis dan meneliti budaya musik di Indonesia. (4) Ashley Maxwell Turner, adalah etnomusikolog dan warga negara Australia yang sangat humanis dan membawa berbagai teori dan metode ilmu antropologi dan sosial. Ia adalah murid dari Margareth J.  Kartomi. Beliau banyak menulis dan meneliti tentang musik Nias dan Melayu. (4) Endo Suanda, adalah ilmuwan etnomusikologi dan seniman tari dari Cirebon, yang sangat faham dan menguasai kesenian di Cirebon, khususnya topeng. Beliau mengambil program master dan doktoralnya di Amerika Serikat. Beliau banyak mepelopori penelitian lapangan kepada mahasiswa Etnomusikologi FS USU, khususnya budaya seni pertunjukan di Sumatera Utara. (5) Rizaldi Siagian, adalah putra Sumatera Utara yang menimba ilmunya di Program Studi Etnomusikologi FS USU dan di San Diego State University Amerika Serikat. Beliau banyak memberikan warna dan polarisasi kepada Program Studi Etnomusikkologi sejak kepulangannya tahun 1986 ke Medan. Berbagai teori dan metode etnomusikologi dirintisnya. Di antaranya adalah teori bobot tangga nada (weighted scale), teori struktural fungsional organologi oleh Kashima Susumu, teori fungsionalisme Merriam, dan lain-lainnya. Sumbangan terbesar beliau terhadap ilmu etnomusikologi adalah bersama Santosa dari ISI Surakarta menerjemahkan tulisan sarjana Eroamerika tentang etnomusikologi yang kemudian dibukukan dan diedit oleh Rahayu Supanggah. Ia kemudian keluar dari USU dan hijrah ke Jakarta sebagai seniman dan ilmuwan seni, sejak tahun 1994. Inilah di antara konsultan yang telah cukup banyak berjasa dalam pengembangan Etnomusikologi FS (kini FIB) USU Medan.  Hingga akhirnya tahun 1993 Ford Foundation tidak lagi memberikan bantuannya.  Periode ini dilanjutkan dengan periode mandiri.         

Periode Mandiri

Setelah lebih dari 10 tahun dibina bersama oleh USU dan The Ford Foundation, maka berikutnya Program Studi Etnomusikologi FS USU masuk ke dalam periode mandiri. Artinya segala manajemen dan polarisasi diasuh secara mandiri oleh institusi ini.

Pada periode mandiri ini, Program Studi Etnomusikologi FS USU sebagaimana halnya dengan prodi-prodi lainnya di lingkungan USU menyandarkan keberlangsungan hidupnya pada dana yang diperoleh dari USU, seperti SPP mahasiswa, kerjasama USU dengan pemerintah daerah, dan lain-lainnya.

Pada periode ini pendidikan, penelitian,  dan pengabdian pada masyarakat terus berjalan. Bahkan beberapa dosen terus melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi baik menggunakan dana pribadi atau dana pemerintah Republik Indonesia seperti melalui TMPD (Tim Manajemen Program Doktoral), dana USU sendiri, URGE, dan lain-lain.

Pada dekade 1990-an Departemen Etnomusikologi FS USU mendapat bantuan untuk pengembangan pendidikan dan pengadaan alat musik melalui program SP4. Sejak saat ini alat-alat musik dan tari pun bertambah. Yang paling menggembirakan adalah akhir tahun 2010, Departemen Etnomusikologi FS USU mendapat bantuan pengadaan alat-alat musik dan laboratorium melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perbaikan (APBN-P) sebesar 15 milyar rupiah yang dikelola  oleh USU. Kini  peralatan laboratorium  Departemen Etnomusikologi FIB USU dapat dikatakan amat memadai. Namun alat-alat laboratorium itu memerlukan gedung sebagai sarana pendukungnya. Mulai tahun 2012 USU akan membangun gedung khusus untuk peralatan laboratorium Etnomusikologi ini.  Demikian sekilas perkembangan Etnomusikologi di era mandiri ini.

Pengelola dan Dosen
Program Studi Etnomusikologi FIB USU sangat mengambil perhatian terhadap jalannya institusi ini berdasar kepada sistem yang dibangunnya. Secara struktural organisasi pengelolaan program studi adalah berdasar kepada tata pamong dan tata kelola yang ada di peringkat universitas dan fakultas. Pengelola diajukan oleh para dosen dan dipilih oleh pimpinan fakultas dan universitas dalam masa-masa penggal waktu sesuai dengan aturan yang terdapat di USU.

Ketua dan Sekretaris Program Studi Etnomusikologi, berdasarkan rentang waktu dari tahun 1979 sampai sekarang adalah sebagai berikut.

1.    Redita B. Loebis (Ketua) dan Said Hasan (Sekretaris) tahun 1979 sampai 1982.
2.    Tengku Sitta Syaritsah (Ketua) dan Yayuk (Sekretaris) tahun 1982 sampai 1985.
3.    Said Hasan (Ketua) dan Setia Dermawan Purba (Sekretaris) 1985 sampai1986.
4.    Rizaldi Siagian (Ketua) dan Setia Dermawan Purba (Sekretaris) 1986 sampai1992.
5.    Zubeisrsyah (Ketua) dan Fadlin (Sekretaris) 1992 sampai 1997.
6.    Setia Dermawan Purba (Ketua) dan Fadlin (Sekretaris) 1997 sampai 2001.
7.    Mauly Purba (Ketua) dan Frida Deliana Harahap (Sekretaris) 2002 sampai 2004.
8.    Frida Deliana Harahap (Ketua) dan Torang Naiborhu (Sekretaris) 2004 sampai 2006.
9.    Frida Deliana Harahap (Ketua) dan Heristina Dewi (Sekretaris) 2006 sampai 2010.
10.  Muhammad Takari (Ketua) dan Heristina Dewi (Sekretaris) 2011 sampai 2014.

Setiap periode kepengurusan di atas memiliki komitmen yang  tinggi untuk keberhasilan institusi etnomusikologi. Masa-masa awal, program studi ini banyak dibantu oleh para dosen dari Jurusan Sastra Inggris FS USU. Mereka dipercayakan mengelola Program Studi Etnomusikologi, bahkan Tengku Sitta Saritsyah disekolahkan untuk mengambil program etnologi tari di salah satu universitas yang mengelola etnomusikologi di Amerika Serikat. Beberapa alumni Etnomusikologi juga disekolahkan ke Amerika Serikat seperti Rizaldi Siagian, Mauly Purba, Ben M. Pasaribu, Irwansyah Harahap, dan Rithaony Hutajulu. Setelah mereka kembali ke Indonesia dengan menyandang gelar masternya diharapkan untuk menyumbangkan apa yang diperolehnya bagi kemajuan Etnomusikologi FS USU.

Dosen-dosen Etnomusikologi direkrut terutama dari kalangan alumni Etnomuskologi FS USU sendiri dan beberapa di antaranya dari ASKI Padangpanjang dan ASTI Bali. Para dosen yang berstatus sebagai pegawai negeri sipil (PNS) adalah: (1) Setia Dermawan Purba, (2) Kumalo Tarigan, (3) Perikuten Tarigan, (4) Mauly Purba, (5) Frida Deliana Harahap, (6) Fadlin, (7) Muhammad Takari, (8) Rithaony Hutajulu, (9) Torang Naiborhu,  (10) Ketut Jelantik, (11) Bebas Sembiring, (12) Heristina Dewi, (13) Arifni Netriroza, dan (14) Irwansayh. Ketut Jelantik yang bekerja sejak tahun 1991, kemudian mengajukan permohonan untuk kembali ke ISI Denpasar Bali pada tahun 2000, sehingga jumlah dosen tetap Program Studi Etnomusikologi USU hingga kini berjumlah 13 orang. Mereka inilah yang mengelola dan mengasuh mata-mata kuliah keahlian etnomusikologi.

Di sisi lain Program Studi Etnomusikologi USU juga menggunakan dan memberdayakan dosen luar biasa atau dosen tidak tetap. Mereka ini mumnya adalah seniman dan ilmuwan seni yang dipandang pakar sebagai pemusik dan penari, yang kapasistasnya diakui di kalangan seniman dan ilmuwan seni di kawasan ini. Mereka sangat fungsional di dalam masyarakat dan kelompoknya. Adapun mata kuliah praktik musik dan tari yang mereka asuh ini, melingkupi tiga wilayah praktik yaitu Nusantara Pokok (musik dan tari etnik Sumatera Utara), Nusantara (Minagkabau, Aceh, Jawa, Sunda, dan Bali), serta Dunia (seperti gitar, saksofon, klarinet, dan piano). Dosen-dosen praktik musik dan tari di Program Studi Etnomusikologi adalah:  Ade Herdiyat, Marsius Sitohang, Syainul Irwan, Datuk Ahmad Fauzi, Coki Sipahutar, Oslin Sihaloho, Sapna Sitopu, Michael Panggabean, Yoe Anto Ginting, Tahan Perjuangan, Ishak Jamal Lubis, Hubari Gulo, Radjoki Nainggolan, dan lain-lainnya. Di era 1990-an sampai awal 2000-an ada pula dosen-dosen praktik senior seperti: Dagaruddin Lubis, Jasa Tarigan, Sangkot Lubis, Amru Lubis, Jati Utomo, Tri Wahyonio Hariyadi, Dasar Manao, Tandak Brutu, Titi Agussalim, dan lain-lainnya. Secara institusional, agar nilai akademik formal terjaga, para seniman senior yang berpendidikan SMA ke bawah didampingi oleh dosen tetap Program Studi Etnomusikologi.

Dalam rangka mempersiapkan suksesi kepengurusan dan pergantian zaman, maka Program Studi Etnomusikologi FIB USU berusaha menambah dosen tetap dan tidak tetap. Walaupun telah ditegaskan oleh pemerintah tidak adanya penambahan dosen di wilayah Indonesia Barat, namun Program Studi Etnomusikologi berusaha sekuat tenaga untuk menambah dosen, agar di masa 15 tahun yang akan datang sudah ada pengganti-pengganti para dosen senior ini.  

Selain sekolah di luar negeri, tidak ketinggalan pula beberapa dosen di Program Studi Etnomuskologi FS USU disekolahkan ke dalam negeri. Di antara mereka adalah Setia Dermawan Purba yang melanjutkan studi Magister (S2) Antropologi di Universitas Indonesia tahun 1992 sampai 1995. Menyusul pula kemudian Frida Deliana Harahap yang juga sekolah di tempat yang sama. Selain itu Muhammad Takari sekolah ke Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, di Program Studi Magister Ilmu-ilmu Humaniora, Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa tahun 1996 sampai 1998. Disusul oleh Torang Naiborhu yang juga mengambil Program Magister Seni Pertunjukan dan Seni Rupa di Universitas Gadjah Mada.  Kemudian Kumalo Tarigan melanjutkan studi magiosternya ke Universiti Sains Pulau Pinang, dan kini sedang melanjut ke jenjang doktoral. Demikian pula Kumalo Tarigan melanjutkan studi magister sainsnya di Pengkajian Budaya Universitas Udayana Bali, dan kini sedang melanjutkan S3nya di Universiti Sains Malaya Pulaupinang. Arifni Netrirosa juga menyelesaikan studi magister antropologi tarinya di Universiti Sains Pulau Pinang. Fadlin melanjutkan studi masternya dan telah menyelesaikannya tahun 2009 yang lalu di Akademi pengajian Melayu Universiti Malaya. Muhammad Takari menyelesaikan studi Komunikasi Sosiobudaya di Jabatan Pengajian Media  Universiti Malaya tahun 2010 yang lalu. Kini Rithaony Hutajulu sedang melanjutkan studi doktoral di salah satu perguruan tinggi di Jepang. Kemudian Prikuten Tarigan melanjutkan studi S3 di USM Malaysia.

lkusu i orig

LK USU